Latar Belakang

Mantan Menteri Pertanian Suswono dalam sambutannya di acara Industry Agriculture for Sustainable Food Security and Rural Development di Bogor, Selasa, 3 September 2013 mengemukakan bahwa ada lima tantangan besar sektor pertanian di masa mendatang dan membutuhkan penanganan. Pertama, tantangan untuk meningkatkan pendapatan petani, yang sebagian besar memiliki lahan di bawah luasan 0,5 hektar per kapita. Kedua, terkait tantangan agronomis  untuk meningkatkan produksi pangan dan komoditas pertanian. Ketiga, tantangan demografis untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau penduduk yang terus tumbuh.  Keempat, tantangan untuk memfasilitasi proses transformasi perekonomian nasional dari berbasis fosil ke bioekonomi.  Kelima, tantangan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam konteks perubahan iklim global.  Solusi satu-satunya adalah penciptaan teknologi baru atau teknologi pertanian yang inovatif.

Menurut data United Nation for Development Program (UNDP), indeks pencapaian teknologi Indonesia berada pada urutan ke-60 dari 72 negara. Ukuran yang digunakan UNDP adalah penciptaan teknologi yang diukur dari perolehan hak paten dan royalti atas karya dan penemuan teknologi, difusi inovasi teknologi mutakhir yang diukur dari jumlah pengguna internet, dan besaran sumbangan ekspor teknologi terhadap total barang ekspor (UNDP, 2013).  Rendahnya kontribusi iptek di sektor produksi, terlihat dari kurang efisiensi dan rendahnya produktivitas, serta minimnya kandungan teknologi dalam barang ekspor.  Ekspor produk manufaktur masih didominasi oleh produk dengan kandungan teknologi rendah, sedangkan ekspor manufaktur intensitas teknologi tinggi hanya berkontribusi sebesar 7,1% terhadap total ekspor produk manufaktur.

Semantara itu, perguruan tinggi pertanian di Indonesia, seperti IPB, dalam tahun 2013 saja telah menghasilkan 55 jenis inovasi produk pertanian sekalipun baru sekitar 10 persennya yang sudah dimanfaatkan untuk publik.  Tentu saja kondisi ini sangat ditentukan oleh SDM, sarana dan infratruktur, serta dukungan pemerintah dan sector industry, sehingga riset-riset yang dilakukan, baik secara mandiri maupun kemitraan, akan bermuara pada hasil-hasil berupa teknologi baru yang inovatif dan siap dihilirisasi untuk menjawab tantangan dunia pertanian dalam konteks kedaulatan pangan nasional, daya saing global dan juga perubahan iklim global.

FKPTPI sebagai organisasi yang melingkupi perguruan tinggi pertanian se-Indonesia perlu memformulasikan penyelenggaraan pendidikan tinggi pertanian yang berkualitas dan bergerak maju dalam menghasilkan inovasi industry pertanian untuk mendukung pembangunan nasional di sector pertanian.  Oleh sebab itu perlu diadakan lokakarya dan seminar nasional FKPTPI untuk mempertemukan semua pemangku kepentingan dalam rangka memberi kontribusi bersama dalam membangun kerangka dan isi penyelenggaraan pendidikan tinggi pertanian berbasis riset untuk menghasilkan inovasi yang berdayaguna dan berhasilguna.